Powered By Blogger

Senin, 19 Januari 2015

Saran Tuhan tentang Waktu

Dingin itu benar benar menyergap dalam kegelisahan.
Ada kalanya waktu berlalu hanya untuk sekedar memainkan dentingannya.
Sesak adalah kata yang tepat jika gelisah dan himpitan waktu sedang bersendagurau.
Umur ini tak lagi muda, wahai waktu yang telah aku habiskan bersamamu.

Aku begitu ingat saat aku memanggilmu senja, saat aku percaya bahwa cinta adalah permainan dari monyet kecil yang beranjak dewasa.
Aku begitu ingat wanita datang dan pergi.
Mereka tak dapat menggoyahkan egoku untuk selalu bersamamu, selalu memiliki bagian dari tatapanmu, bagian dari tubuhmu, bagian dari santunmu ketika menyentuh relung jiwaku.
Tetapi umur ini tak lagi muda, wahai waktu yang telah aku habiskan untuk menantimu.

Rindu adalah kudapan pagi siang sore dan malam.
Masih hangat jemarimu melewati setiap lekuk wajahku untuk menghabiskan sisa rindu dari hari tanpamu.
Begitu hafal jemari ini untuk mengetikkan kembali puisi puisi rindu agar kau kembali merinduku.
Tetapi umur ini tak lagi muda, wahai waktu yang telah aku habiskan untuk bersenang-senang.

Awal melihatmu aku selalu berkata pada diriku "waktu akan memperkenalkan kita, nanti."
Ketika mengenalmu, kita berkata bersama "kita tidak punya banyak waktu untuk bersama, waktu kita sempit. waktu yang ada tidaklah cukup untuk kita."
Dan pada akhirnya ini yang bisa aku katakan "beri aku waktu untuk menghapus setiap sidik jarimu di tubuh dan jiwaku."
Mungkin Tuhan hanya memberiku banyak saran untuk menghabiskan waktu untuk apa dan dengan siapa.