Malam itu kamu memakai kemeja biru, ya malam itu, aku masih ingat jelas. Ujung ujung bibirmu menyungging, membuat simpul indah yang setiap aku melihatnya aku merasa dihangatkan. Malam itu hujan, bukan hujan, mungkin gerimis, dengan udara yang dingin dan suasana yang begitu tenang. Pendingin mobilmu membuatku semakin menggigil, membuatku tak hentinya menggesekkan kedua telapak tanganku.
"Kedinginan?" tanyamu santun sembari memutarkan pengontrol pendingin ke angka yang lebih kecil.
"Iya, enggak tau nih dingin banget rasanya. Hawanya yang dingin atau kesehatanku yang lagi masalah ya?"
"Hawanya kok kayaknya. Tapi kamu sehatkan?"
"Kayaknya sih gitu."
Malam itu, ya malam itu, 10 menit berlalu setelah kamu mengecilkan pendingin mobilmu, aku masih tetap merasa dingin dan kemudian menggesekkan kembali telapak tanganku.
"Kamu benar-benar enggak ngrasain dingin?" aku mencoba membuka percakapan.
"Tadi iya, kalau sekarang enggak sih."
"Oh, mungkin aku yang lagi ada trouble."
Malam itu, di pinggir jalan, kamu menepikan mobilmu. Tiba-tiba kamu mendekapku, sangat erat dan aku hampir tak bisa bernafas. Mungkin aku tak bisa bernafas bukan karena dekapanmu, tapi karena jantungku yang berdetak terlalu cepat hingga aku hanya menyadari kerja jantungku yang kemudia aku lupa kalau aku harus bernafas. Kamu melepaskan pelukanmu, lalu melepas seat belt yang aku kira kamu menganggap itu mengganggu pelukanmu, dan seketika setelah seat belt mu terlepas, kamu memelukku lagi dan aku lupa bernafas lagi. Oh Tuhan, aroma tubuhmu membuatku ingat untuk bernafas lagi, bahkan hingga saat ini aku masih mengingat aroma yang ku hirup di malam itu. Aku begitu kaku, aku lupa untuk membalas pelukanmu. Itu yang seharusnya aku lakukan tetapi aku lupa, dan aku sangat menyesal hingga saat ini. Aku begitu menikmati dari detik ke detik dekapanmu itu, ya di malam itu.
Malam itu, matamu begitu tajam menatapku, telapak tanganmu menghangatkan telapakku. Dan tanpa aku sadari, bibirmu sudah menyentuh bibirku, ya aku hanya kaku diam dan berusaha untuk tidak bergerak. Mungkin saat itu bibirku seperti tentakel gurita yang hanya bisa kaku diam dan tak melakukan apapun saat menempel di sebuah benda. Kamu melepaskannya perlahan dan kembali melihat mataku. Aku tidak tahu harus memberikan nama apa pada tatapanmu, ya seperti itulah, seperti yang selalu aku ingat hingga saat ini.
Malam itu, setelah kamu menatapku yang entah tatapan apa itu, suara gadgetmu berbunyi, yang membuat kamu akhirnya beralih mengambil gadgetmu di atas dasbor mobilmu. Aku memalingkan badanku dan membujur kaku menghadap ke depan. Kamu mulai membuka gadgetmu dan sesaat kemudian kamu mengetik balasan untuk chat yang masuk di gadgetmu. Aku tahu, badanku saat itu kaku sepertinya sendi otot tulang masih merasa malu untuk digerakkan, tapi mataku sepertinya sudah mau bekerja. Mataku berusaha melirik ke arah gadgetmu, ya ke arah gadgetmu di malam itu, dan aku melihat namanya di layar gadget mu..
ya namanya, nama kekasihmu.