Pagi ini busungan cahaya membangunkan perlahan
Dinginnya angin menyentuh lembuh
Mungkin ini hari yang baik untuk kau, untuk kita
Lelakiku berjuang dirumput luas
Demi kehormatan dan kebanggaan
Hari ini dan seterusnya lelakiku
Semangatku menjadi jiwamu, letihmu menjadi dahagaku
Senin, 27 Mei 2013
Kamis, 23 Mei 2013
Cinta, Aku Kalah
Cinta, aku mengalah.
Kepada alam yang selalu bergairah.
Kepada hujan yang selalu meredakan gelisah
Kepada matahari yang dipenuhi amarah.
Cinta, kali ini aku menyerah.
Tak tahu apa yang salah.
Cintaku penuh peluh darah.
Ini pembuktiaan segala resah.
Atas dasar ketidakpastian yang panjang lelah.
Desakan menghujam dari segala arah.
Akhirnya cintaku tak lagi gagah.
Mesra di puja jatuh bernanah.
Ku akhiri lalu semoga menjadi berkah.
Cinta, langit mulai memerah.Aku kalah.
Kepada alam yang selalu bergairah.
Kepada hujan yang selalu meredakan gelisah
Kepada matahari yang dipenuhi amarah.
Cinta, kali ini aku menyerah.
Tak tahu apa yang salah.
Cintaku penuh peluh darah.
Ini pembuktiaan segala resah.
Atas dasar ketidakpastian yang panjang lelah.
Desakan menghujam dari segala arah.
Akhirnya cintaku tak lagi gagah.
Mesra di puja jatuh bernanah.
Ku akhiri lalu semoga menjadi berkah.
Cinta, langit mulai memerah.Aku kalah.
Rabu, 22 Mei 2013
Sepenggal Percakapan
Aku sederhana
Bukan, kamu rumit
Aku acuh
Bukan, hanya takut terlalu jauh
Tapi aku terlalu jauh untuk menjadi dekat
Karena dekat kau anggap semu, jauh kau pikir kamu
Semu telah membuat iman menghindari setapakmu
......
Bukan, kamu rumit
Aku acuh
Bukan, hanya takut terlalu jauh
Tapi aku terlalu jauh untuk menjadi dekat
Karena dekat kau anggap semu, jauh kau pikir kamu
Semu telah membuat iman menghindari setapakmu
......
Minggu, 12 Mei 2013
Catatan Seorang Pemuja
Aku ingin berada dekatmu
Setiap saat melihat senyummu
Adakah tempat bagiku untuk sekedar berada disisimu ?
Memperhatikan setiap sikapmu yang membuatku tersipu malu
Menjelma kau menjadi indah duniaku
Membuatku berangan disetiap mimpiku
Adakah tempat untukku dibelaian malammu ?
Agar ku jenak dalam lelapmu
Berjuta tanya menapaki setiap langkahku
Berjuta tanya mengikuti desah nafasku
Adakah tempat untukku di dekapmu ?
Yang kan kugunakan untuk menghabiskan waktu-waktuku
Setiap saat melihat senyummu
Adakah tempat bagiku untuk sekedar berada disisimu ?
Memperhatikan setiap sikapmu yang membuatku tersipu malu
Menjelma kau menjadi indah duniaku
Membuatku berangan disetiap mimpiku
Adakah tempat untukku dibelaian malammu ?
Agar ku jenak dalam lelapmu
Berjuta tanya menapaki setiap langkahku
Berjuta tanya mengikuti desah nafasku
Adakah tempat untukku di dekapmu ?
Yang kan kugunakan untuk menghabiskan waktu-waktuku
Sabtu, 11 Mei 2013
Pengaduan Wanita pada Tuhan
Pengaduan Wanita pada Tuhan
Puisi cinta terus
membahana dalam otakku. Aku bukan termasuk orang yang mudah untuk jatuh hati
pada seorang lelaki. Bahkan, aku sendiri bukan termasuk orang yang terbuka.
Tapi kali ini, sesuatu rasa yang paling diagungkan di muka bumi ini hadir di
hatiku. Hadir karena seseorang yang tak pernah mengenalku sekalipun. Mungkin,
aku tahu namanya, tahu dimana dia tinggal, tahu kapan ia dilahirkan. Tapi, apa
dia tahu dimana aku tinggal? Tahu kapan aku dilahirkan? Atau yang lebih tragis,
apakah dia tahu namaku? Pertanyaan yang paling menyesakkan jiwa.
Aristo, itu nama yang menyebabkan
kegundahanku. Dia tidak lebih dari orang pada umumnya. Rambutnya rapi, tidak
gondrong dan tidak terlalu pendek. Sangat pas untuknya. Saat berjalan memasuki
sebuah pintu dia akan sedikit merunduk, karena takut kepalanya terkena atap
pintu. Hitam manis, wajah orang jawa. Tetapi bukan itu yang membuatku jatuh
hati. Sikapnya yang peduli dengan apa saja yang ada di sekitarnya yang sekarang
ini membuat aku tergila- gila. Aristo, Aristo, Aristo.
Sekitar
2 tahun yang lalu, di depan stasiun hujan deras sekali. Dia menggunakan payung
biru berlambang sebuah tim kesebelasan sepak bola. Aku memandangnya dari jarak
sekitar 2 meter. Dia meninggalkan stasiun menerobos hujan, seakan hujan adalah
sahabat karibnya. Tiba- tiba dia berhenti, berjongkok dan memberikan payungnya
pada seorang pengemis tua yang dari tadi hanya melihat hujan dipojokan pos
satpam. Lalu Aristo berlari menuju tempat dimana mobilnya diparkir dan pergi entah
kemana. Sejak saat itu, aku mulai tak bisa melupakan senyumnya yang tulus
kepada pengemis itu. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini?
Aku benar- benar tidak bisa memungkiri perasaan ini. Aku juga masih ingat
betapa baiknya dia mengajak beberapa anak jalanan itu makan di warteg. Atau
tentang dia yang suka memungut sampah plastik dijalanan dan membuangnya di tong
sampah. Apa lagi yang kurang dari seorang Aristo? Aristo memang tidak ada cela.
Tapi aku? Terlalu banyak.
Hari
ini aku mengerjakan tugas di sekolah. Aku melihat ke luar jendela yang dari
jendela itu, aku bisa melihat bebas ke sebuah lapangan di pinggir jalan. Aku
bertanya- tanya, apakah Aristo disana? Ya, tepat. Aristo disana, Aristo memang
sering bermain disana. Dia sedang berlari mengelilingi lapangan. Aku
mengaguminya, sangat. Tuhan, bantu aku. Beri aku sedikit kesempatan agar dia
dapat mengenalku. Amin.
Ternyata
Tuhan belum mendengar permintaanku. Aku lelah sekali dengan apa yang aku
rasakan ini. Kali ini, aku harus ada usaha. Usaha agar dia mengenalku. Mungkin
akan sedikit sulit untuk mengenalnya, karena dia bukan murid di sekolahku. Dan
sebenarnya, aku tidak tahu dimana dia bersekolah. Aku hanya tahu rumahnya.
Rumahnya yang besar, besar sekali. Hatiku memutuskan, aku harus duduk di sebuah
bangku di pojok lapangan sambil berpura- pura membaca buku. Setiap hari ku
lakukan bila dia bermain sepakbola disana. Kadang sambil pura- pura
mendengarkan musik dan sedikit terlelap. Aku kurang tahu bagaimana caranya
melakukan pendekatan kepada seorang lelaki. Parahnya, tak pernah aku bertanya
kepada teman- temanku tentang hal itu.
2
bulan aku jalani semua usahaku. Pernah suatu ketika bola itu datang menghampiri
ke bangkuku dan Aristo yang mengambilnya. Dia hanya tersenyum. Yah, setidaknya
aku pernah mendapatkan senyumnya walaupun dia tak pernah menanyakan namaku atau
semacamnya. Dan sampai saatnya doaku mulai terkabul. ketika aku melakukan hal
konyol seperti biasanya- memperhatikan Aristo dari bangku di pojokan lapangan-
, hujan dengan segala kemisteriusan hadirnya datang mengguyur. Aku segera
membereskan buku- buku ku. Belum sempat aku berlari ke tempat teduh, ada
sesuatu yang melindungiku dari tetesan air hujan. Aristo menjadikan jaketnya
sebagai batas antara kami dan hujan. Aku kaget dan mati kutu. Aku hanya bisa
terdiam sesampainya di sebuah rumah yang biasa digunakan untuk berteduh oleh
banyak orang.
“
Kamu naik apa? “ Aristo bertanya padaku sambil mengibaskan jaketnya.
“
Ee.. ee.. Dijemput. “ Aku tahu, pasti wajahku merah sekali waktu itu.
“
Ooo.. Ya udah, tunggu disini aja sampai reda. Suruh jemput disini aja, daripada
kamu jalan ke depan sekolah kayak biasanya. “ Aristo berbicara sambil tersenyum.
Aku benar- benar tak menyangka dia tahu apa yang biasanya aku lakukan.
“
Iya, entar kalau dah agak reda, aku minta dijemput sini aja. “ Aku masih malu
dengan kejadian ini.
Setelah
hujan reda, semua berjalan seperti biasanya. Aku membaca buku dan dia bermain
bola dengan teman- temannya. Kenapa dia tidak menanyakan namaku? Apa aku memang
benar- benar bukan seorang wanita yang menarik di mata lelaki? Aku mengambil
nafas panjang dan berusaha meredam depresi ini. Tuhan, andaikan saja aku
menjadi mereka yang berparas menawan dan mempunyai gaya yang modern. Mengapa
semua itu tidak ku miliki? Maaf Tuhan, kali ini aku memungkiri semua yang Kau
beri.
Setiap
melihatnya bermain di lapangan, aku berharap hujan datang agar kesempatan
berbicara dengannya datang lagi. Aristo, aku mencintaimu lebih dari kodrat es
yang mencintai suhu dingin. Kecemburuanku melebihi kecemburuan awan gelap yang
berusaha melindungi rembulan di malam hari. Keinginanku untuk memilikimu lebih
dari para raja yang menginginkan mahkota. Hujan datang kembali dan kesempatan
itu datang.
“
Kenapa kamu suka baca buku di situ? Udah tahu entar kalau hujan bakal
kehujanan. “ Aristo menyakan hal yang membuatku gugup.
“
Enak aja tempatnya. “ Aku tersenyum, dia membalas.
“
Nggak takut entar kepalanya kena bola? “ Aristo melebarkan matanya dan
menatapku.
“
Nggak. Kan aku kuat. “ Aku mulai sedikit salah tingkah.
“
Hahahhaa. Oh ya, siapa namamu? “ Pertanyaan yang membuatku tersentak. Ini yang
ku inginkan dari dulu.
“
Wanita. “
Yap,
itulah namaku. Dia bilang, namaku bagus dan jarang yang mempunyai nama seperti
itu. Dan setelah kejadian itu, aku mulai sering berbicara padanya dan dia
terkadang sering menemaniku membaca sambil mendengarkan musik. Kita semakin
dekat, semakin dekat, bahkan sangat dekat. Perasaan ini semakin bergejolak. Aku
semakin galau. Oh Tuhan, terimakasih Kau berkenan mendengarkan doa hamba- Mu
yang kecil ini. Kepada siapa lagi aku memanjatkan pujian dan harapan selain
pada- Mu. Tetapi, aku menginginkan jauh lebih dari ini, Tuhan. Aku ingin
memilikinya. Menjadi bagian yang hilang dari dirinya. Semua ku panjatkan
dihiruk- pikuk kelelahan jiwa manusia. Setiap hari ku lakukan agar Tuhan mau
mengabulkan kembali doaku.
Sore
itu, dia meminjam sebuah buku dariku. Buku berjudul Cinta dalam Sepotong Roti
karya Fira Basuki. Aristo membawanya pulang dan mengembalikannya padaku 3 hari
kemudian. Katanya, ceritanya indah. Kami berbincang banyak saat itu. Tentang
diri kami masing- masing, tentang kehidupan, tentang buku, tentang bola,
tentang kesenangan kami, tentang yang kami alami, bahkan tentang pendapat
masing- masing mengenai apa saja yang bisa didefinisikan dalam hidup.
Sepulangnya aku dari lapangan, aku mengadu kembali pada Tuhan. Tuhan, apakah
mustahil aku memilikinya? Apakah mustahil aku selalu berada di sampingnya?
Tuhan, bantu aku dalam apa saja yang akan aku lakukan. Aku hanya ingin
mencintai dia seutuhnya. Biarkan dia mendekapku, Tuhan.
Sudah
5 hari ini, Aristo tidak bermain sepakbola, teman- temannya juga. Aku mulai
merindu. Merindukan yang bukan milikku. Kemana ya mereka? Apa mereka pindah ke
lapangan lain? Semua pertanyaan bercampur aduk jadi satu dalam otakku. Untung
besoknya mereka bermain lagi di lapangan itu. Aku bergegas kesana sambil
membawa buku- bukuku. Duduk di bangku biasa dan berharap bisa melihat Aristo
disana. Kenyataannya, Aristo tidak disana, tidak sedang bermain bola, berlari
di pinggir lapangan atau duduk- duduk sambil minum air mineral. Aku merasakan
kecewa yang sangat dalam. Aku berusaha mengalihkan kerinduanku kepada buku-
buku bacaan yang kubawa. Entah kenapa, hari ini aku ingin membaca Cinta dalam
Sepotong Roti lagi. Firasatku benar, sampai pada halaman ke 38, ada sebuah
kertas yang terselip disana. Apa itu kepunyaan Aristo? Tuhan, salahkah aku
membacanya? Ku kira tidak, dan aku membukanya. Di kertas itu terdapat tulisan
rapi. Aku membacanya dengan seksama.
Bukankah yang kau puja itu akan
hilang ?
tapi tidak begitu dengan pujaan-pujaanku padamu
Akankah yang kau rindu itu akan berhenti merindu ?
Bukan seperti rinduku yang tak kan berhenti mengaliri aliran darahmu.
Banyak kadang yang tak mungkin ku ungkapkan pada coretan- coretan gilaku
Segila otakku yang memendam akan hinaku
Mencangkok batinmu di batinku
Agar ku tahu apa yang kau harap dalam setiap doamu.
Ungkapkanlah, cinta.
Tentang gejolak- gejolak air yang menghantam dinding- dinding ke egoan.
Semua perasaan yang membuatku disini ditawan waktu.
Sadarkan aku, cinta.
Jika yang ingin ku miliki itu bukanlah rinduan pada malammu.
Atau yang ingin ku temani tidaklah pernah memerlukan teman.
tapi tidak begitu dengan pujaan-pujaanku padamu
Akankah yang kau rindu itu akan berhenti merindu ?
Bukan seperti rinduku yang tak kan berhenti mengaliri aliran darahmu.
Banyak kadang yang tak mungkin ku ungkapkan pada coretan- coretan gilaku
Segila otakku yang memendam akan hinaku
Mencangkok batinmu di batinku
Agar ku tahu apa yang kau harap dalam setiap doamu.
Ungkapkanlah, cinta.
Tentang gejolak- gejolak air yang menghantam dinding- dinding ke egoan.
Semua perasaan yang membuatku disini ditawan waktu.
Sadarkan aku, cinta.
Jika yang ingin ku miliki itu bukanlah rinduan pada malammu.
Atau yang ingin ku temani tidaklah pernah memerlukan teman.
Wanita, aku mencintaimu. Sejak kita
bertemu di stasiun 2 tahun lalu.
-ARISTO-
Aku
menangis sejadi- jadinya. Tuhan memang benar- benar Maha Pendengar. Doaku
dikabulkan Tuhan lagi. Aku membaca surat itu berulang kali sambil menangis
bahagia. Aku tersenyum. Semua ini mengagetkanku. Aku tak percaya gadis
sepertiku bisa memiliki seorang lelaki tampan, bijaksana, dan sangat peduli
dengan segala hal di sekitarnya. Aku loncat girang. Tidak peduli lagi dengan
buku- buku dan musik yang ku dengar. Semua sudah menjadi kenyataan. Buktinya
adalah kertas yang kugenggam erat. Oh Tuhan, rasa syukurku tak hentinya untuk-
Mu.
Aku
berlari ke arah teman- teman Aristo yang sedang bermain bola. Ku tanyakan pada
mereka dimana Aristo sekarang. Semua hening dan tak ada yang berbicara. Sampai
akhirnya salah seorang diantara mereka mengatakan hal yang tak pernah ingin ku
dengar. Dia mengatakan Aristo meninggal dunia 5 hari yang lalu. Telah terjadi
sebuah kecelakaan lalu lintas yang akhirnya menyebabkan Aristo tewas. Setelah
dia menghabiskan sorenya denganku waktu itu, dia mengalami kecelakaan yang
merenggut segala harapanku untuk memilikinya. Aku menangis keras sekali. Dan
hujan turun deras. Aku seperti ditemani Aristo dalam buaian kesedihanku. Tuhan,
aku mengadu kembali pada- Mu dan Wanita ini akan terus mengadu pada- Mu.
Kalau boleh setetes air mataku keluar
Aku akan menangis memohon padamu
Tapi aku tahu kau tak mau
Maka aku akan menahan sebisaku
Jika sepanjang hari aku bebas menentukan
mauku
Aku akan selalu bersamamu
Tapi aku tahu kau tak mau
Maka aku akan tetap disini menunggumu
Bila semua lagu adalah milikku
Aku akan bernyanyi untukmu di setiap
detik yang aku punya
Tapi aku tahu kau tak mau
Maka aku akan diam dan tidak akan
mengeluarkan suara
Kalau semua cinta ada padaku
Aku akan memberikan semua cintaku padamu
Tapi aku tahu kau tak peduli
Maka aku akan menyimpannya dalam hati
dan hidupku saja
Dimana Cinta?
Kemanakah cinta ku cari
Ketika malam semakin kelam
Ketika rindu semakin beku
Kemanakah cinta kucari
Jika harap tak memberi kepastian
Jika hasrat hanya berakhir air mata
Kemanakah cinta ku cari
Berkelana di gurun tandus
Menyelam ke dasar samudra
Yang ku temui hanya diriku seorang diri
Senja
Ego itu masih tersimpan rapi
Tertata dalam lembaran kehidupan yang berjalan
Mungkin ego yang terlalu naif bagi seorang wanita
Kali ini egoku kembali jatuh pada senja
Dibawah tiupan tawa yang berhembus
Dengan getaran guntur dalam gelap
Mendekap siluet hitam bayangan senja
Memandang setiap tatapanmu
Seperti beradu dengan laser yang menyakitkan
Digenggam tanganmu terdapat tangan tangan kecil
Bermain dan merajut kasih dalam senja yang panjang
Mengajari pemilik tawa dan tangan kecil untuk mengenal Tuhan
Dalam pelukan sejuknya senja
Aku belajar tentang hidup
Belajar tentang tegar, keinginan dan pengharapan
Senja, peluklah aku agar aku selalu belajar
Senja, pandanglah aku walau itu menyakitkan
Senja, genggamlah aku untuk merajut harapan dalam doa
Sebuah Bait
Dan hanya ini yang aku punya
Meluruhkan ragaku dengan ragamu
Terkadang galau menghadang jiwa
Tapi keyakinan telah membuatku
merebahkan diri dalam sujud panjangmu
Langganan:
Postingan (Atom)
