Powered By Blogger

Senin, 27 Mei 2013

2011

Pagi ini busungan cahaya membangunkan perlahan
Dinginnya angin menyentuh lembuh
Mungkin ini hari yang baik untuk kau, untuk kita

Lelakiku berjuang dirumput luas
Demi kehormatan dan kebanggaan
Hari ini dan seterusnya lelakiku
Semangatku menjadi jiwamu, letihmu menjadi dahagaku

Kamis, 23 Mei 2013

Cinta, Aku Kalah

Cinta, aku mengalah.
Kepada alam yang selalu bergairah.
Kepada hujan yang selalu meredakan gelisah
Kepada matahari yang dipenuhi amarah.

Cinta, kali ini aku menyerah.
Tak tahu apa yang salah.
Cintaku penuh peluh darah.

Ini pembuktiaan segala resah.
Atas dasar ketidakpastian yang panjang lelah.
Desakan menghujam dari segala arah.

Akhirnya cintaku tak lagi gagah.
Mesra di puja jatuh bernanah.
Ku akhiri lalu semoga menjadi berkah.
Cinta, langit mulai memerah.Aku kalah.

Rabu, 22 Mei 2013

Sepenggal Percakapan

Aku sederhana
Bukan, kamu rumit
Aku acuh
Bukan, hanya takut terlalu jauh
Tapi aku terlalu jauh untuk menjadi dekat
Karena dekat kau anggap semu, jauh kau pikir kamu
Semu telah membuat iman menghindari setapakmu
......

Minggu, 12 Mei 2013

Catatan Seorang Pemuja

Aku ingin berada dekatmu
Setiap saat melihat senyummu
Adakah tempat bagiku untuk sekedar berada disisimu ?
Memperhatikan setiap sikapmu yang membuatku tersipu malu

Menjelma kau menjadi indah duniaku
Membuatku berangan disetiap mimpiku
Adakah tempat untukku dibelaian malammu ?
Agar ku jenak dalam lelapmu

Berjuta tanya menapaki setiap langkahku
Berjuta tanya mengikuti desah nafasku
Adakah tempat untukku di dekapmu ?
Yang kan kugunakan untuk menghabiskan waktu-waktuku

Sabtu, 11 Mei 2013

Pengaduan Wanita pada Tuhan


Pengaduan Wanita pada Tuhan
Puisi cinta terus membahana dalam otakku. Aku bukan termasuk orang yang mudah untuk jatuh hati pada seorang lelaki. Bahkan, aku sendiri bukan termasuk orang yang terbuka. Tapi kali ini, sesuatu rasa yang paling diagungkan di muka bumi ini hadir di hatiku. Hadir karena seseorang yang tak pernah mengenalku sekalipun. Mungkin, aku tahu namanya, tahu dimana dia tinggal, tahu kapan ia dilahirkan. Tapi, apa dia tahu dimana aku tinggal? Tahu kapan aku dilahirkan? Atau yang lebih tragis, apakah dia tahu namaku? Pertanyaan yang paling menyesakkan jiwa.
            Aristo, itu nama yang menyebabkan kegundahanku. Dia tidak lebih dari orang pada umumnya. Rambutnya rapi, tidak gondrong dan tidak terlalu pendek. Sangat pas untuknya. Saat berjalan memasuki sebuah pintu dia akan sedikit merunduk, karena takut kepalanya terkena atap pintu. Hitam manis, wajah orang jawa. Tetapi bukan itu yang membuatku jatuh hati. Sikapnya yang peduli dengan apa saja yang ada di sekitarnya yang sekarang ini membuat aku tergila- gila. Aristo, Aristo, Aristo.
Sekitar 2 tahun yang lalu, di depan stasiun hujan deras sekali. Dia menggunakan payung biru berlambang sebuah tim kesebelasan sepak bola. Aku memandangnya dari jarak sekitar 2 meter. Dia meninggalkan stasiun menerobos hujan, seakan hujan adalah sahabat karibnya. Tiba- tiba dia berhenti, berjongkok dan memberikan payungnya pada seorang pengemis tua yang dari tadi hanya melihat hujan dipojokan pos satpam. Lalu Aristo berlari menuju tempat dimana mobilnya diparkir dan pergi entah kemana. Sejak saat itu, aku mulai tak bisa melupakan senyumnya yang tulus kepada pengemis itu. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Aku benar- benar tidak bisa memungkiri perasaan ini. Aku juga masih ingat betapa baiknya dia mengajak beberapa anak jalanan itu makan di warteg. Atau tentang dia yang suka memungut sampah plastik dijalanan dan membuangnya di tong sampah. Apa lagi yang kurang dari seorang Aristo? Aristo memang tidak ada cela. Tapi aku? Terlalu banyak.
Hari ini aku mengerjakan tugas di sekolah. Aku melihat ke luar jendela yang dari jendela itu, aku bisa melihat bebas ke sebuah lapangan di pinggir jalan. Aku bertanya- tanya, apakah Aristo disana? Ya, tepat. Aristo disana, Aristo memang sering bermain disana. Dia sedang berlari mengelilingi lapangan. Aku mengaguminya, sangat. Tuhan, bantu aku. Beri aku sedikit kesempatan agar dia dapat mengenalku. Amin.
Ternyata Tuhan belum mendengar permintaanku. Aku lelah sekali dengan apa yang aku rasakan ini. Kali ini, aku harus ada usaha. Usaha agar dia mengenalku. Mungkin akan sedikit sulit untuk mengenalnya, karena dia bukan murid di sekolahku. Dan sebenarnya, aku tidak tahu dimana dia bersekolah. Aku hanya tahu rumahnya. Rumahnya yang besar, besar sekali. Hatiku memutuskan, aku harus duduk di sebuah bangku di pojok lapangan sambil berpura- pura membaca buku. Setiap hari ku lakukan bila dia bermain sepakbola disana. Kadang sambil pura- pura mendengarkan musik dan sedikit terlelap. Aku kurang tahu bagaimana caranya melakukan pendekatan kepada seorang lelaki. Parahnya, tak pernah aku bertanya kepada teman- temanku tentang hal itu.
2 bulan aku jalani semua usahaku. Pernah suatu ketika bola itu datang menghampiri ke bangkuku dan Aristo yang mengambilnya. Dia hanya tersenyum. Yah, setidaknya aku pernah mendapatkan senyumnya walaupun dia tak pernah menanyakan namaku atau semacamnya. Dan sampai saatnya doaku mulai terkabul. ketika aku melakukan hal konyol seperti biasanya- memperhatikan Aristo dari bangku di pojokan lapangan- , hujan dengan segala kemisteriusan hadirnya datang mengguyur. Aku segera membereskan buku- buku ku. Belum sempat aku berlari ke tempat teduh, ada sesuatu yang melindungiku dari tetesan air hujan. Aristo menjadikan jaketnya sebagai batas antara kami dan hujan. Aku kaget dan mati kutu. Aku hanya bisa terdiam sesampainya di sebuah rumah yang biasa digunakan untuk berteduh oleh banyak orang.
“ Kamu naik apa? “ Aristo bertanya padaku sambil mengibaskan jaketnya.
“ Ee.. ee.. Dijemput. “ Aku tahu, pasti wajahku merah sekali waktu itu.
“ Ooo.. Ya udah, tunggu disini aja sampai reda. Suruh jemput disini aja, daripada kamu jalan ke depan sekolah kayak biasanya. “ Aristo berbicara sambil tersenyum. Aku benar- benar tak menyangka dia tahu apa yang biasanya aku lakukan.
“ Iya, entar kalau dah agak reda, aku minta dijemput sini aja. “ Aku masih malu dengan kejadian ini.
Setelah hujan reda, semua berjalan seperti biasanya. Aku membaca buku dan dia bermain bola dengan teman- temannya. Kenapa dia tidak menanyakan namaku? Apa aku memang benar- benar bukan seorang wanita yang menarik di mata lelaki? Aku mengambil nafas panjang dan berusaha meredam depresi ini. Tuhan, andaikan saja aku menjadi mereka yang berparas menawan dan mempunyai gaya yang modern. Mengapa semua itu tidak ku miliki? Maaf Tuhan, kali ini aku memungkiri semua yang Kau beri.
Setiap melihatnya bermain di lapangan, aku berharap hujan datang agar kesempatan berbicara dengannya datang lagi. Aristo, aku mencintaimu lebih dari kodrat es yang mencintai suhu dingin. Kecemburuanku melebihi kecemburuan awan gelap yang berusaha melindungi rembulan di malam hari. Keinginanku untuk memilikimu lebih dari para raja yang menginginkan mahkota. Hujan datang kembali dan kesempatan itu datang.
“ Kenapa kamu suka baca buku di situ? Udah tahu entar kalau hujan bakal kehujanan. “ Aristo menyakan hal yang membuatku gugup.
“ Enak aja tempatnya. “ Aku tersenyum, dia membalas.
“ Nggak takut entar kepalanya kena bola? “ Aristo melebarkan matanya dan menatapku.
“ Nggak. Kan aku kuat. “ Aku mulai sedikit salah tingkah.
“ Hahahhaa. Oh ya, siapa namamu? “ Pertanyaan yang membuatku tersentak. Ini yang ku inginkan dari dulu.
“ Wanita. “
Yap, itulah namaku. Dia bilang, namaku bagus dan jarang yang mempunyai nama seperti itu. Dan setelah kejadian itu, aku mulai sering berbicara padanya dan dia terkadang sering menemaniku membaca sambil mendengarkan musik. Kita semakin dekat, semakin dekat, bahkan sangat dekat. Perasaan ini semakin bergejolak. Aku semakin galau. Oh Tuhan, terimakasih Kau berkenan mendengarkan doa hamba- Mu yang kecil ini. Kepada siapa lagi aku memanjatkan pujian dan harapan selain pada- Mu. Tetapi, aku menginginkan jauh lebih dari ini, Tuhan. Aku ingin memilikinya. Menjadi bagian yang hilang dari dirinya. Semua ku panjatkan dihiruk- pikuk kelelahan jiwa manusia. Setiap hari ku lakukan agar Tuhan mau mengabulkan kembali doaku.
Sore itu, dia meminjam sebuah buku dariku. Buku berjudul Cinta dalam Sepotong Roti karya Fira Basuki. Aristo membawanya pulang dan mengembalikannya padaku 3 hari kemudian. Katanya, ceritanya indah. Kami berbincang banyak saat itu. Tentang diri kami masing- masing, tentang kehidupan, tentang buku, tentang bola, tentang kesenangan kami, tentang yang kami alami, bahkan tentang pendapat masing- masing mengenai apa saja yang bisa didefinisikan dalam hidup. Sepulangnya aku dari lapangan, aku mengadu kembali pada Tuhan. Tuhan, apakah mustahil aku memilikinya? Apakah mustahil aku selalu berada di sampingnya? Tuhan, bantu aku dalam apa saja yang akan aku lakukan. Aku hanya ingin mencintai dia seutuhnya. Biarkan dia mendekapku, Tuhan.
Sudah 5 hari ini, Aristo tidak bermain sepakbola, teman- temannya juga. Aku mulai merindu. Merindukan yang bukan milikku. Kemana ya mereka? Apa mereka pindah ke lapangan lain? Semua pertanyaan bercampur aduk jadi satu dalam otakku. Untung besoknya mereka bermain lagi di lapangan itu. Aku bergegas kesana sambil membawa buku- bukuku. Duduk di bangku biasa dan berharap bisa melihat Aristo disana. Kenyataannya, Aristo tidak disana, tidak sedang bermain bola, berlari di pinggir lapangan atau duduk- duduk sambil minum air mineral. Aku merasakan kecewa yang sangat dalam. Aku berusaha mengalihkan kerinduanku kepada buku- buku bacaan yang kubawa. Entah kenapa, hari ini aku ingin membaca Cinta dalam Sepotong Roti lagi. Firasatku benar, sampai pada halaman ke 38, ada sebuah kertas yang terselip disana. Apa itu kepunyaan Aristo? Tuhan, salahkah aku membacanya? Ku kira tidak, dan aku membukanya. Di kertas itu terdapat tulisan rapi. Aku membacanya dengan seksama.
Bukankah yang kau puja itu akan hilang ?
tapi tidak begitu dengan pujaan-pujaanku padamu
Akankah yang kau rindu itu akan berhenti merindu ?
Bukan seperti rinduku yang tak kan berhenti mengaliri aliran darahmu.

Banyak kadang yang tak mungkin ku ungkapkan pada coretan- coretan gilaku
Segila otakku yang memendam akan hinaku
Mencangkok batinmu di batinku
Agar ku tahu apa yang kau harap dalam setiap doamu.

Ungkapkanlah, cinta.
Tentang gejolak- gejolak air yang menghantam dinding- dinding ke egoan.
Semua perasaan yang membuatku disini ditawan waktu.

Sadarkan aku, cinta.
Jika yang ingin ku miliki itu bukanlah rinduan pada malammu.
Atau yang ingin ku temani tidaklah pernah memerlukan teman.

Wanita, aku mencintaimu. Sejak kita bertemu di stasiun 2 tahun lalu.
-ARISTO-

Aku menangis sejadi- jadinya. Tuhan memang benar- benar Maha Pendengar. Doaku dikabulkan Tuhan lagi. Aku membaca surat itu berulang kali sambil menangis bahagia. Aku tersenyum. Semua ini mengagetkanku. Aku tak percaya gadis sepertiku bisa memiliki seorang lelaki tampan, bijaksana, dan sangat peduli dengan segala hal di sekitarnya. Aku loncat girang. Tidak peduli lagi dengan buku- buku dan musik yang ku dengar. Semua sudah menjadi kenyataan. Buktinya adalah kertas yang kugenggam erat. Oh Tuhan, rasa syukurku tak hentinya untuk- Mu.
Aku berlari ke arah teman- teman Aristo yang sedang bermain bola. Ku tanyakan pada mereka dimana Aristo sekarang. Semua hening dan tak ada yang berbicara. Sampai akhirnya salah seorang diantara mereka mengatakan hal yang tak pernah ingin ku dengar. Dia mengatakan Aristo meninggal dunia 5 hari yang lalu. Telah terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas yang akhirnya menyebabkan Aristo tewas. Setelah dia menghabiskan sorenya denganku waktu itu, dia mengalami kecelakaan yang merenggut segala harapanku untuk memilikinya. Aku menangis keras sekali. Dan hujan turun deras. Aku seperti ditemani Aristo dalam buaian kesedihanku. Tuhan, aku mengadu kembali pada- Mu dan Wanita ini akan terus mengadu pada- Mu.

Kalau boleh setetes air mataku keluar
Aku akan menangis memohon padamu
Tapi aku tahu kau tak mau
Maka aku akan menahan sebisaku

Jika sepanjang hari aku bebas menentukan mauku
Aku akan selalu bersamamu
Tapi aku tahu kau tak mau
Maka aku akan tetap disini menunggumu

Bila semua lagu adalah milikku
Aku akan bernyanyi untukmu di setiap detik yang aku punya
Tapi aku tahu kau tak mau
Maka aku akan diam dan tidak akan mengeluarkan suara

Kalau semua cinta ada padaku
Aku akan memberikan semua cintaku padamu
Tapi aku tahu kau tak peduli
Maka aku akan menyimpannya dalam hati dan hidupku saja

Dimana Cinta?


Kemanakah cinta ku cari
Ketika malam semakin kelam
Ketika rindu semakin beku

Kemanakah cinta kucari
Jika harap tak memberi kepastian
Jika hasrat hanya berakhir air mata

Kemanakah cinta ku cari
Berkelana di gurun tandus
Menyelam ke dasar samudra
Yang ku temui hanya diriku seorang diri

Senja


Ego itu masih tersimpan rapi
Tertata dalam lembaran kehidupan yang berjalan
Mungkin ego yang terlalu naif bagi seorang wanita

Kali ini egoku kembali jatuh pada senja
Dibawah tiupan tawa yang berhembus
Dengan getaran guntur dalam gelap
Mendekap siluet hitam bayangan senja

Memandang setiap tatapanmu
Seperti beradu dengan laser yang menyakitkan
Digenggam tanganmu terdapat tangan tangan kecil
Bermain dan merajut kasih dalam senja yang panjang
Mengajari pemilik tawa dan tangan kecil untuk mengenal Tuhan

Dalam pelukan sejuknya senja
Aku belajar tentang hidup
Belajar tentang tegar, keinginan dan pengharapan

Senja, peluklah aku agar aku selalu belajar
Senja, pandanglah aku walau itu menyakitkan
Senja, genggamlah aku untuk merajut harapan dalam doa

Sebuah Bait


Dan hanya ini yang aku punya
Meluruhkan ragaku dengan ragamu
Terkadang galau menghadang jiwa
Tapi keyakinan telah membuatku merebahkan diri dalam sujud panjangmu