Dunia ini tak terlalu sempurna,
sampai akhirnya aku melihatmu dari sebuah jendela simpangan jalan. Dengan tawa
candamu yang kupuja, dengan senyummu yang ku junjung, dengan tutur katamu yang
ku serap sampai aliran darahku. Mungkin ini hanya sebatas pada cinta kasih
seorang manusia tak berpendidikan, tapi jelas ini adalah karunia Nya.
Aku mengenalmu dari tetesan darah
yang menggenang dilantai sebuah surau hati, dan dengan rapih aku
membersihkannya menggunakan sebuah tisu bersih. Ini bukan pertanda buruk untuk
sebuah perkenalankan? Dengan santun aku membersihkan lukamu yang menganga.
Masih teringat jelas semua itu di otak yang biasa kau panggil dengan sebutan
‘otak kecil’. Tapi dengan ‘otak kecil’ ini aku mampu mengingat dari awal aku
melihatmu di jendela simpangan jalan sampai pada perkenalan singkat atas nama
tetesan darah.
Tak segan dalam angan menjelang
tidur kusisipkan sedikit ruang untuk membelaimu. Mencoba mendeskripsikan
keinginanku dalam sebuah kata dalam ‘otak kecil’. Aku menilaimu dengan harkat
martabatku bahwa kamu adalah sosok sempurna yang bermahkotakan seribu ungkapan
cinta, walau terkadang orang lain tak dapat melihat apa yang aku ucapkan
berulang kali kepada mereka, tentang keindahan jati dirimu. Bahkan saat kau
berkata tentang masa lalumu, tentang nalurimu sebagai lelaki, aku tidak jijik
mendengarnya. Bahkan dengan setia aku mendengar celotehmu. Dari delapan tahun
lalu kupingku ini tetap setia mendengarmu dan ‘otak kecil’ ini dengan segala
kemampuannya tetap mendampingiku dalam mengolah arti celotehmu. Tak pernah aku
merasa bosan walau telah berulang kali kau ceritakan sebuah cerita yang selalu
sama. Aku tetap tertawa. Aku tetap tersenyum. Bahkan aku tetap mengatakan “lalu
bagaimana?” .
Waktu terus memakan diriku dan
dirimu. Dari delapan tahun lalu yang aku tidak mengenalmu dan hanya bisa
melampiaskan sebuah rindu pada jendela di simpangan jalan, hingga kini menjadi
aku yang selalu setia dengan ceritamu. Apakah kau menyadari arti sebuah
kesetiaanku, arti sebuah tawa, sebuah senyum, ribuan kata yang terlontar dari
mulutku, binaran mata yang selalu terpancar hangat dari mataku? Kusadari, kamu
tidak mengerti semua itu. Kamu hanya selalu membicarakan dia, dia, dia, dia,
dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, dan dia yang lain. Terbesitkah kamu akan
menceritakan tentang aku? Sedikit ruangpun aku sangat bersyukur. Harapan itu
sering terselib dalam setiap doa panjangku kepada Tuhan, tetapi nihil adalah
hasil akhir dari sebuah pengharapan.
Kemana lagi harus ku akhiri
sebuah cerita yang terdengar gelisah? Aku hanya mengutip dari ribuan kata bijak
untuk memberikan semangat pada jiwaku ini. Hingga akhirnya nanti kumohonkan
pada Sang Khalik untuk mempersatukan kita dalam sebuah perhentian cerita yang
gelisah antara dua insan yang saling tak mengerti tentang cinta.
