Powered By Blogger

Senin, 12 November 2012

Otak Kecil


Dunia ini tak terlalu sempurna, sampai akhirnya aku melihatmu dari sebuah jendela simpangan jalan. Dengan tawa candamu yang kupuja, dengan senyummu yang ku junjung, dengan tutur katamu yang ku serap sampai aliran darahku. Mungkin ini hanya sebatas pada cinta kasih seorang manusia tak berpendidikan, tapi jelas ini adalah karunia Nya.
Aku mengenalmu dari tetesan darah yang menggenang dilantai sebuah surau hati, dan dengan rapih aku membersihkannya menggunakan sebuah tisu bersih. Ini bukan pertanda buruk untuk sebuah perkenalankan? Dengan santun aku membersihkan lukamu yang menganga. Masih teringat jelas semua itu di otak yang biasa kau panggil dengan sebutan ‘otak kecil’. Tapi dengan ‘otak kecil’ ini aku mampu mengingat dari awal aku melihatmu di jendela simpangan jalan sampai pada perkenalan singkat atas nama tetesan darah.
Tak segan dalam angan menjelang tidur kusisipkan sedikit ruang untuk membelaimu. Mencoba mendeskripsikan keinginanku dalam sebuah kata dalam ‘otak kecil’. Aku menilaimu dengan harkat martabatku bahwa kamu adalah sosok sempurna yang bermahkotakan seribu ungkapan cinta, walau terkadang orang lain tak dapat melihat apa yang aku ucapkan berulang kali kepada mereka, tentang keindahan jati dirimu. Bahkan saat kau berkata tentang masa lalumu, tentang nalurimu sebagai lelaki, aku tidak jijik mendengarnya. Bahkan dengan setia aku mendengar celotehmu. Dari delapan tahun lalu kupingku ini tetap setia mendengarmu dan ‘otak kecil’ ini dengan segala kemampuannya tetap mendampingiku dalam mengolah arti celotehmu. Tak pernah aku merasa bosan walau telah berulang kali kau ceritakan sebuah cerita yang selalu sama. Aku tetap tertawa. Aku tetap tersenyum. Bahkan aku tetap mengatakan “lalu bagaimana?” .
Waktu terus memakan diriku dan dirimu. Dari delapan tahun lalu yang aku tidak mengenalmu dan hanya bisa melampiaskan sebuah rindu pada jendela di simpangan jalan, hingga kini menjadi aku yang selalu setia dengan ceritamu. Apakah kau menyadari arti sebuah kesetiaanku, arti sebuah tawa, sebuah senyum, ribuan kata yang terlontar dari mulutku, binaran mata yang selalu terpancar hangat dari mataku? Kusadari, kamu tidak mengerti semua itu. Kamu hanya selalu membicarakan dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, dan dia yang lain. Terbesitkah kamu akan menceritakan tentang aku? Sedikit ruangpun aku sangat bersyukur. Harapan itu sering terselib dalam setiap doa panjangku kepada Tuhan, tetapi nihil adalah hasil akhir dari sebuah pengharapan.
Kemana lagi harus ku akhiri sebuah cerita yang terdengar gelisah? Aku hanya mengutip dari ribuan kata bijak untuk memberikan semangat pada jiwaku ini. Hingga akhirnya nanti kumohonkan pada Sang Khalik untuk mempersatukan kita dalam sebuah perhentian cerita yang gelisah antara dua insan yang saling tak mengerti tentang cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar