Ketika aku mengenalmu, aku belajar untuk menjiwai. Semakin mengenalmu, aku merasa semakin memberikan separuh ruang di jiwaku untuk setiap waktu yang kita habiskan. Dengan kata lain di ragaku ini mengandung dua jiwa, kamu dan aku.
Siang ini aku menunggumu, di luar pagar rumahmu, seperti biasa. Tak ada satu suarapun yang aku keluarkan, dan tak ada satu suarapun yang aku dengar. Aku hanya menuliskan pesan singkat yang aku kirimkan ke ponselmu, "Aku di depan rumahmu." Selalu terlalu singkat, dan bahkan itu selalu menjadi pesan pertama di dalam kotak percakapan pesan ponselku. Lima menit aku menunggu di depan pagar rumahmu, aku tetap terdiam sambil terus menggenggam ponselku. Tujuh menit berlalu, aku mengirim pesan singkat kembali, "Aku taruhkan pesananmu di pagar rumah. Dengan plastik berwarna merah jambu. Aku pulang dulu, mungkin kamu sedang sibuk." Kejadian ini tak cuma sekali, mungkin beberapa kali. Dan aku sudah bisa menebak, lima hingga enam jam kemudian kamu baru akan membalas pesan singkatku, "Maaf, aku tadi pergi. Kirimannya sudah aku terima. Terimakasih banyak." Dan itu akhir dari percakapan kita yang selalu terlalu singkat. Kamu selalu terlalu sibuk, dan aku hanya bs menaruh plastik berwarna sama di pagar rumahmu.
Malam itu aku terlalu letih hanya untuk sekedar merebahkan badan. Aku seperti tidak ingin terlalu cepat tidur. Beberapa pesan singkat ku kirimkan kepadamu untuk melepaskan sedikit beban rindu yang terus menumpuk. Tanpa balasanmu, seperti biasa, kamu terlalu sibuk. Aku memutuskan untuk pergi keluar rumah, melihat lampu lampu kota di malam hari. Terangnya meredup, seperti hubungan kita yang semakin hilang pancarannya. Aku tahu, aku bahkan bukan kekasihmu. Aku hanya seorang teman yang memilihmu untuk menjadi perhatian besar dalam hidupku. Tidak berarti aku mengharapkanmu menjadikanku prioritas juga, tapi setidaknya anggaplah perasaanku yang selalu ada untukmu.
Entah kenapa tengah malam itu aku berhenti di depan rumahmu. Perasaan ini sudah tidak terbendung karena rindu yang meledak ledak. Aku mengambil plastik berwarna merah jambu dari dalam bagasi motorku. Kemudian aku membukanya dan meniupkan kata cinta di dalamnya. Aku mengikatnya erat, agar nafas yang ku keluarkan saat mengatakan kata sakral itu tidak ikut tertiup angin malam. Aku menaruhnya di pagar rumahmu. Lalu aku mengirimkan pesan singkat sebelum aku kembali ke rumah, "Ada plastik merah jambu di pagar rumahmu."
Kasur kamar sepertinya sudah menunggu untuk memelukku erat. Aku membuka handphone yang ternyata sudah ada sms dr kamu, "Kosong. Tadi isinya apa?"
Dengan segenap hati aku menjawab, "Isinya kata kata yang tidak akan kamu dengar.. Aku lelah. Malam."
