Powered By Blogger

Selasa, 29 April 2014

Plastik Merah Jambu

Ketika aku mengenalmu, aku belajar untuk menjiwai. Semakin mengenalmu, aku merasa semakin memberikan separuh ruang di jiwaku untuk setiap waktu yang kita habiskan. Dengan kata lain di ragaku ini mengandung dua jiwa, kamu dan aku.

Siang ini aku menunggumu, di luar pagar rumahmu, seperti biasa. Tak ada satu suarapun yang aku keluarkan, dan tak ada satu suarapun yang aku dengar. Aku hanya menuliskan pesan singkat yang aku kirimkan ke ponselmu, "Aku di depan rumahmu." Selalu terlalu singkat, dan bahkan itu selalu menjadi pesan pertama di dalam kotak percakapan pesan ponselku. Lima menit aku menunggu di depan pagar rumahmu, aku tetap terdiam sambil terus menggenggam ponselku. Tujuh menit berlalu, aku mengirim pesan singkat kembali, "Aku taruhkan pesananmu di pagar rumah. Dengan plastik berwarna merah jambu. Aku pulang dulu, mungkin kamu sedang sibuk." Kejadian ini tak cuma sekali, mungkin beberapa kali. Dan aku sudah bisa menebak, lima hingga enam jam kemudian kamu baru akan membalas pesan singkatku, "Maaf, aku tadi pergi. Kirimannya sudah aku terima. Terimakasih banyak." Dan itu akhir dari percakapan kita yang selalu terlalu singkat. Kamu selalu terlalu sibuk, dan aku hanya bs menaruh plastik berwarna sama di pagar rumahmu.

Malam itu aku terlalu letih hanya untuk sekedar merebahkan badan. Aku seperti tidak ingin terlalu cepat tidur. Beberapa pesan singkat ku kirimkan kepadamu untuk melepaskan sedikit beban rindu yang terus menumpuk. Tanpa balasanmu, seperti biasa, kamu terlalu sibuk. Aku memutuskan untuk pergi keluar rumah, melihat lampu lampu kota di malam hari. Terangnya meredup, seperti hubungan kita yang semakin hilang pancarannya. Aku tahu, aku bahkan bukan kekasihmu. Aku hanya seorang teman yang memilihmu untuk menjadi perhatian besar dalam hidupku. Tidak berarti aku mengharapkanmu menjadikanku prioritas juga, tapi setidaknya anggaplah perasaanku yang selalu ada untukmu.

Entah kenapa tengah malam itu aku berhenti di depan rumahmu. Perasaan ini sudah tidak terbendung karena rindu yang meledak ledak. Aku mengambil plastik berwarna merah jambu dari dalam bagasi motorku. Kemudian aku membukanya dan meniupkan kata cinta di dalamnya. Aku mengikatnya erat, agar nafas yang ku keluarkan saat mengatakan kata sakral itu tidak ikut tertiup angin malam. Aku menaruhnya di pagar rumahmu. Lalu aku mengirimkan pesan singkat sebelum aku kembali ke rumah, "Ada plastik merah jambu di pagar rumahmu."

Kasur kamar sepertinya sudah menunggu untuk memelukku erat. Aku membuka handphone yang ternyata sudah ada sms dr kamu, "Kosong. Tadi isinya apa?"
Dengan segenap hati aku menjawab, "Isinya kata kata yang tidak akan kamu dengar.. Aku lelah. Malam."

Senin, 21 April 2014

Kalau Kamu Tanya Aku

Kalau kamu tanya aku takut kehilangan kamu, aku jawab iya. Kalau kamu tanya aku cemburu dengannya atau tidak, aku jawab iya. Kalau kamu tanya aku cinta kamu atau tidak, aku jawab sangat. Bahkan beribu- ribu sangat akan ku ucapkan berulang kali di hadapanmu, di setiap sela pembicaraan kita, dimanapun kita menghabiskan waktu bersama. Mungkin pertanyaanmu semacam itu akan berjubel dikepalamu dan ketika kamu menanyakannya aku akan menjawab dengan menahan ekspresi diri yang sebenarnya.

Kalau kamu tanya aku tentang dia yang kau cintai, aku jawab tidak tahu menahu tentang urusanmu. Kalau kamu tanya aku tentang pendapatku mengenai perasaannya kepadamu, aku jawab kenal saja tidak kenapa aku harus tahu menahu tentangnya. Kalau kamu tanya aku marah atau tidak jika kau bertanya tentang dia, aku jawab ya sangat marah. Kamu mungkin berpikir aku egois hanya mementingkan perasaan diriku sendiri, tetapi cinta memang egois. Omong kosong adalah ketika orang mengatakan bahwa dia ikhlas orang yang dicintainya pergi bersama seonggok daging yang lain. Bukankah realita tetap mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta selalu ingin berada dekat dengan pujaannya.

Kalau kamu tanya aku apakah aku berusaha mencari manusia yang lain, aku jawab iya. Kalau kamu tanya aku apakah dia-manusia baru di dalam otakku- lebih baik dibandingkan dirimu, aku jawab sangat lebih baik. Kalau kamu tanya aku apakah aku berhasil memindahkan hati ke manusia lain itu, aku jawab belum. Iya, aku jawab belum karena kemungkinan itu selalu ada dalam kehidupan. Bahkan sebuah teori harus memberikan kesempatan kemungkinan pada teori baru yang akan muncul. Ini sama halnya dengan memberikan kesempatan pada manusia lain untuk masuk ke dalam hatiku.

Kalau kamu tanya aku sayang kamu atau tidak, aku jawab iya.
Kalau kamu tanya aku ingin menghabiskan detik ke detik bersamamu, aku jawab iya.
Kalau kamu tanya aku akankah aku menunggumu hingga tua nanti, aku jawab tidak. Maaf.

Selasa, 15 April 2014

I Saw Her Name On Your Gadget.

Malam itu kamu memakai kemeja biru, ya malam itu, aku masih ingat jelas. Ujung ujung bibirmu menyungging, membuat simpul indah yang setiap aku melihatnya aku merasa dihangatkan. Malam itu hujan, bukan hujan, mungkin gerimis, dengan udara yang dingin dan suasana yang begitu tenang. Pendingin mobilmu membuatku semakin menggigil, membuatku tak hentinya menggesekkan kedua telapak tanganku.

"Kedinginan?" tanyamu santun sembari memutarkan pengontrol pendingin ke angka yang lebih kecil.
"Iya, enggak tau nih dingin banget rasanya. Hawanya yang dingin atau kesehatanku yang lagi masalah ya?"
"Hawanya kok kayaknya. Tapi kamu sehatkan?"
"Kayaknya sih gitu."

Malam itu, ya malam itu, 10 menit berlalu setelah kamu mengecilkan pendingin mobilmu, aku masih tetap merasa dingin dan kemudian menggesekkan kembali telapak tanganku.

"Kamu benar-benar enggak ngrasain dingin?" aku mencoba membuka percakapan.
"Tadi iya, kalau sekarang enggak sih."
"Oh, mungkin aku yang lagi ada trouble."

Malam itu, di pinggir jalan, kamu menepikan mobilmu. Tiba-tiba kamu mendekapku, sangat erat dan aku hampir tak bisa bernafas. Mungkin aku tak bisa bernafas bukan karena dekapanmu, tapi karena jantungku yang berdetak terlalu cepat hingga aku hanya menyadari kerja jantungku yang kemudia aku lupa kalau aku harus bernafas. Kamu melepaskan pelukanmu, lalu melepas seat belt yang aku kira kamu menganggap itu mengganggu pelukanmu, dan seketika setelah seat belt mu terlepas, kamu memelukku lagi dan aku lupa bernafas lagi. Oh Tuhan, aroma tubuhmu membuatku ingat untuk bernafas lagi, bahkan hingga saat ini aku masih mengingat aroma yang ku hirup di malam itu. Aku begitu kaku, aku lupa untuk membalas pelukanmu. Itu yang seharusnya aku lakukan tetapi aku lupa, dan aku sangat menyesal hingga saat ini. Aku begitu menikmati dari detik ke detik dekapanmu itu, ya di malam itu.

Malam itu, matamu begitu tajam menatapku, telapak tanganmu menghangatkan telapakku. Dan tanpa aku sadari, bibirmu sudah menyentuh bibirku, ya aku hanya kaku diam dan berusaha untuk tidak bergerak. Mungkin saat itu bibirku seperti tentakel gurita yang hanya bisa kaku diam dan tak melakukan apapun saat menempel di sebuah benda. Kamu melepaskannya perlahan dan kembali melihat mataku. Aku tidak tahu harus memberikan nama apa pada tatapanmu, ya seperti itulah, seperti yang selalu aku ingat hingga saat ini.

Malam itu, setelah kamu menatapku yang entah tatapan apa itu, suara gadgetmu berbunyi, yang membuat kamu akhirnya beralih mengambil gadgetmu di atas dasbor mobilmu. Aku memalingkan badanku dan membujur kaku menghadap ke depan. Kamu mulai membuka gadgetmu dan sesaat kemudian kamu mengetik balasan untuk chat yang masuk di gadgetmu. Aku tahu, badanku saat itu kaku sepertinya sendi otot tulang masih merasa malu untuk digerakkan, tapi mataku sepertinya sudah mau bekerja. Mataku berusaha melirik ke arah gadgetmu, ya ke arah gadgetmu di malam itu, dan aku melihat namanya di layar gadget mu..




ya namanya, nama kekasihmu.