Kalau kamu tanya aku takut kehilangan kamu, aku jawab iya. Kalau kamu tanya aku cemburu dengannya atau tidak, aku jawab iya. Kalau kamu tanya aku cinta kamu atau tidak, aku jawab sangat. Bahkan beribu- ribu sangat akan ku ucapkan berulang kali di hadapanmu, di setiap sela pembicaraan kita, dimanapun kita menghabiskan waktu bersama. Mungkin pertanyaanmu semacam itu akan berjubel dikepalamu dan ketika kamu menanyakannya aku akan menjawab dengan menahan ekspresi diri yang sebenarnya.
Kalau kamu tanya aku tentang dia yang kau cintai, aku jawab tidak tahu menahu tentang urusanmu. Kalau kamu tanya aku tentang pendapatku mengenai perasaannya kepadamu, aku jawab kenal saja tidak kenapa aku harus tahu menahu tentangnya. Kalau kamu tanya aku marah atau tidak jika kau bertanya tentang dia, aku jawab ya sangat marah. Kamu mungkin berpikir aku egois hanya mementingkan perasaan diriku sendiri, tetapi cinta memang egois. Omong kosong adalah ketika orang mengatakan bahwa dia ikhlas orang yang dicintainya pergi bersama seonggok daging yang lain. Bukankah realita tetap mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta selalu ingin berada dekat dengan pujaannya.
Kalau kamu tanya aku apakah aku berusaha mencari manusia yang lain, aku jawab iya. Kalau kamu tanya aku apakah dia-manusia baru di dalam otakku- lebih baik dibandingkan dirimu, aku jawab sangat lebih baik. Kalau kamu tanya aku apakah aku berhasil memindahkan hati ke manusia lain itu, aku jawab belum. Iya, aku jawab belum karena kemungkinan itu selalu ada dalam kehidupan. Bahkan sebuah teori harus memberikan kesempatan kemungkinan pada teori baru yang akan muncul. Ini sama halnya dengan memberikan kesempatan pada manusia lain untuk masuk ke dalam hatiku.
Kalau kamu tanya aku sayang kamu atau tidak, aku jawab iya.
Kalau kamu tanya aku ingin menghabiskan detik ke detik bersamamu, aku jawab iya.
Kalau kamu tanya aku akankah aku menunggumu hingga tua nanti, aku jawab tidak. Maaf.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar