Akankah malam ini langit tetap mendekapku?
Akankah pagi nanti mentari tetap membelaiku?
Resahku dilalap api- api kerinduan
Gundahku ditelan hujan yang basah
Bukankah kau yakini suatu saat nanti semua akan kembali?
Ketika embun telah terlanjur menjadi titk- titik air kesetiaan
Bukankah kau akan datang padaku lagi?
Seperti es yang telah mencintai kodratnya sebagai benda yang dingin
Aku mencintaimu lebih dari air yang menguap di muka bumi
Bahkan lebih dari banyaknya sinar matahari yang abadi
Hanya beberapa doaku pada Sang Khalik
Yang selalu ada dibuaian siang dan malam
Khalik, runtuhkan egoku agar yang jauh itu seakan dekat
Pencipta, hilangkan sepi agar rindu ini tak sampai membunuhku
Yang Esa, kabulkan doa malam- malamku pada pelukanMu.
Akankah pagi nanti mentari tetap membelaiku?
Resahku dilalap api- api kerinduan
Gundahku ditelan hujan yang basah
Bukankah kau yakini suatu saat nanti semua akan kembali?
Ketika embun telah terlanjur menjadi titk- titik air kesetiaan
Bukankah kau akan datang padaku lagi?
Seperti es yang telah mencintai kodratnya sebagai benda yang dingin
Aku mencintaimu lebih dari air yang menguap di muka bumi
Bahkan lebih dari banyaknya sinar matahari yang abadi
Hanya beberapa doaku pada Sang Khalik
Yang selalu ada dibuaian siang dan malam
Khalik, runtuhkan egoku agar yang jauh itu seakan dekat
Pencipta, hilangkan sepi agar rindu ini tak sampai membunuhku
Yang Esa, kabulkan doa malam- malamku pada pelukanMu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar