Powered By Blogger

Jumat, 10 Agustus 2012

Merah Putih Memelukku


            Waktu telah berputar terlalu cepat. Kini aku menua, tulangku rapuh, kesehatanku tidak stabil, mengingat sesuatu hal adalah salah satu bentuk penyiksaan untukku. Dengan raga tua ku yang tidak memungkinkan lagi untuk melibatkan diri di medan perang, aku masih sanggup mengobarkan api yang sangat besar dalam batinku.
            Masih ku kenang ketika berjuang bersama teman- teman di Surabaya. Walau namaku tak tertoreh dalam buku pelajaran siswa, aku tetap dengan bangga menceritakan perjuanganku dan teman- teman kepada cucu dan anak- anak tetangga. Tak hentinya ku peragakan bagaimana gaya kami melawan penjajah di setiap senja. Dengan bangga ku tenteng bendera merah- putih menuju anak- anak yang telah menanti di teras rumah.
            “ Ayo, Mbah Mo, kita udah nggak sabar pengin tahu kelanjutannya! “ Antusias itu yang aku suka. Mereka membantuku berjalan dan duduk di kursi kayu tua yang hampir lapuk dimakan zaman.
            “ Iya, anak- anak, sabar tho ya. Bantu Mbah ambil teh pahit di meja makan dulu, “ kataku sambil tersenyum. Seorang anak berlari masuk ke dalam rumah lalu keluar membawa gelas berisi teh pahit dengan hati- hati.
            Aku mulai bercerita. Dan setiap ceritaku, aku sisipkan sedikit candaan agar anak- anak tidak tegang. Mereka adalah pendengar yang baik dan penerus bangsa yang hebat. Adzan maghrib adalah tanda bahwa ceritaku akan bersambung. Dengan gembira, mereka akan menanti kelanjutan ceritaku esok hari dan beramai- ramai pergi ke surau.
            Betapa bangganya diriku dengan anak- anak ini, ya sama bangganya diriku dengan merah- putih yang setiap hari ku lipat kecil dan ku masukkan ke dalam saku baju safariku. Itulah kebiasaanku yang tak bisa lepas dari zaman penjajahan dulu, selalu membawa merah putih kemanapun.
            Hari ini badanku tak sesegar biasanya. Pernafasanku sedikit sesak dan tidak teratur. Sudah dari sebulan lalu, aku berencana memeriksakan raga tua ini ke dokter. Tapi apa daya, uang veteranku hanya cukup untuk membayar kebutuhan pokok, listrik, dan PDAM. Aku benar- benar merasa lemah. Padahal nanti aku harus menemui anak- anak penerus bangsa itu. Aku harus menepati janji setiaku pada mereka untuk menceritakan pertumpahan darah yang telah terjadi puluhan tahun lalu.
            Ya, senja benar- benar hampir tiba. Anak- anak sudah memanggil- manggil namaku dari depan rumah. Terdengar langkah kecil dan kicauan kecil dari mulut mereka.
            “ Assalamualaikum, Mbah Mo! “
            “ Walaikumsalam, le, nduk! Masuk sini, bantu Mbah Mo! “ Jawabku sambil tetap duduk di amben dalam kamar.
            Bergegas beberapa dari mereka masuk dan membantuku duduk di kursi lapuk teras rumah seperti biasanya. Aku mengeluarkan merah- putih dari saku baju safariku kemudian mengibar- kibarkannya di depan anak- anak.
            “ Wah, seperti biasa, mbah, merah- putih selalu wangi. Hmmm. “ Salah satu anak menyeletuk sambil mengambil nafas dalam- dalam.
            “ Ya iya tho ya, namanya juga kebanggaan Indonesia. Ya pasti harum. “ Aku berkata bangga.
            Cerita kemarin aku lanjutkan dengan penuh hormat kepada bangsa ini. Setelah setengah jam bercerita, aku merasa pusing dan mulai batuk- batuk. Tapi dengan kesetiaanku pada penerus bangsa dan merah- putih, aku tetap melanjutkan ceritaku ini. Semakin lama, aku semakin merasa mengantuk. Kini aku menaruh merah- putih itu di dekapanku. Aku berhenti sejenak dari ceritaku. Aku masih mendengar celotehan mereka, sayup- sayup lalu menghilang, lalu terdengar lagi, lalu menghilang.
            “ Cah, Mbah Mo sare. Piye iki? Pulang yo, kasian Mbah Mo. “
            “ Ya uwis, ayo.” Aku masih mendengar keriuhan mulut kecil mereka dengan jelas walau mataku terpejam.
            “ Eh, sik bentar. Aku nyelimuti Mbah Mo dulu. Pakai apa ya cah? Merah- putih wae ya? “ Seorang anak mendatangiku lalu menyelimutiku dan membiarkanku dipeluk oleh merah- putih. Dan sejak saat itu, aku tak lagi mendengar mereka. Aku tak lagi mendengar Indonesia Raya. Aku tak lagi mendengar dunia. Tetapi aku masih bisa merasakan kesetiaanku yang dibayar dengan pelukan merah- putih.

Nama : Endera Ayu Luviana
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Kelompok : Loyalitas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar