Waktu telah berputar terlalu cepat.
Kini aku menua, tulangku rapuh, kesehatanku tidak stabil, mengingat sesuatu hal
adalah salah satu bentuk penyiksaan untukku. Dengan raga tua ku yang tidak
memungkinkan lagi untuk melibatkan diri di medan perang, aku masih sanggup
mengobarkan api yang sangat besar dalam batinku.
Masih
ku kenang ketika berjuang bersama teman- teman di Surabaya. Walau namaku tak
tertoreh dalam buku pelajaran siswa, aku tetap dengan bangga menceritakan
perjuanganku dan teman- teman kepada cucu dan anak- anak tetangga. Tak hentinya
ku peragakan bagaimana gaya kami melawan penjajah di setiap senja. Dengan
bangga ku tenteng bendera merah- putih menuju anak- anak yang telah menanti di
teras rumah.
“
Ayo, Mbah Mo, kita udah nggak sabar pengin tahu kelanjutannya! “ Antusias itu
yang aku suka. Mereka membantuku berjalan dan duduk di kursi kayu tua yang
hampir lapuk dimakan zaman.
“
Iya, anak- anak, sabar tho ya. Bantu Mbah ambil teh pahit di meja makan dulu, “
kataku sambil tersenyum. Seorang anak berlari masuk ke dalam rumah lalu keluar
membawa gelas berisi teh pahit dengan hati- hati.
Aku
mulai bercerita. Dan setiap ceritaku, aku sisipkan sedikit candaan agar anak-
anak tidak tegang. Mereka adalah pendengar yang baik dan penerus bangsa yang
hebat. Adzan maghrib adalah tanda bahwa ceritaku akan bersambung. Dengan
gembira, mereka akan menanti kelanjutan ceritaku esok hari dan beramai- ramai
pergi ke surau.
Betapa
bangganya diriku dengan anak- anak ini, ya sama bangganya diriku dengan merah-
putih yang setiap hari ku lipat kecil dan ku masukkan ke dalam saku baju
safariku. Itulah kebiasaanku yang tak bisa lepas dari zaman penjajahan dulu,
selalu membawa merah putih kemanapun.
Hari
ini badanku tak sesegar biasanya. Pernafasanku sedikit sesak dan tidak teratur.
Sudah dari sebulan lalu, aku berencana memeriksakan raga tua ini ke dokter.
Tapi apa daya, uang veteranku hanya cukup untuk membayar kebutuhan pokok,
listrik, dan PDAM. Aku benar- benar merasa lemah. Padahal nanti aku harus
menemui anak- anak penerus bangsa itu. Aku harus menepati janji setiaku pada
mereka untuk menceritakan pertumpahan darah yang telah terjadi puluhan tahun
lalu.
Ya,
senja benar- benar hampir tiba. Anak- anak sudah memanggil- manggil namaku dari
depan rumah. Terdengar langkah kecil dan kicauan kecil dari mulut mereka.
“
Assalamualaikum, Mbah Mo! “
“
Walaikumsalam, le, nduk! Masuk sini, bantu Mbah Mo! “ Jawabku sambil tetap
duduk di amben dalam kamar.
Bergegas
beberapa dari mereka masuk dan membantuku duduk di kursi lapuk teras rumah
seperti biasanya. Aku mengeluarkan merah- putih dari saku baju safariku
kemudian mengibar- kibarkannya di depan anak- anak.
“
Wah, seperti biasa, mbah, merah- putih selalu wangi. Hmmm. “ Salah satu anak
menyeletuk sambil mengambil nafas dalam- dalam.
“
Ya iya tho ya, namanya juga kebanggaan Indonesia. Ya pasti harum. “ Aku berkata
bangga.
Cerita
kemarin aku lanjutkan dengan penuh hormat kepada bangsa ini. Setelah setengah
jam bercerita, aku merasa pusing dan mulai batuk- batuk. Tapi dengan
kesetiaanku pada penerus bangsa dan merah- putih, aku tetap melanjutkan
ceritaku ini. Semakin lama, aku semakin merasa mengantuk. Kini aku menaruh
merah- putih itu di dekapanku. Aku berhenti sejenak dari ceritaku. Aku masih
mendengar celotehan mereka, sayup- sayup lalu menghilang, lalu terdengar lagi,
lalu menghilang.
“
Cah, Mbah Mo sare. Piye iki? Pulang yo, kasian Mbah Mo. “
“
Ya uwis, ayo.” Aku masih mendengar keriuhan mulut kecil mereka dengan jelas
walau mataku terpejam.
“
Eh, sik bentar. Aku nyelimuti Mbah Mo dulu. Pakai apa ya cah? Merah- putih wae
ya? “ Seorang anak mendatangiku lalu menyelimutiku dan membiarkanku dipeluk
oleh merah- putih. Dan sejak saat itu, aku tak lagi mendengar mereka. Aku tak lagi
mendengar Indonesia Raya. Aku tak lagi mendengar dunia. Tetapi aku masih bisa
merasakan kesetiaanku yang dibayar dengan pelukan merah- putih.
Nama : Endera Ayu Luviana
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Kelompok : Loyalitas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar