Seperti biasa, malam ini kamu tampak ceria dengan segudang
cerita hubungan maya yang kamu jalani dengannya. Dan seperti biasa, aku
menyimaknya penuh dengan kehati- hatian dan bertanya jika aku sedikit bingung
dengan apa yang kamu ujarkan. Peluhku tak menetes pada kulitku atau mengalir
melewati pori- poriku, peluhku tertahan dan mengalir bersama serombongan
trombosit dan leukosit yang terus mengalir dalam diriku. Mendengar celotehmu
bukan hal yang melelahkan tetapi mendengar namanya dan membaca namanya pada
gadget kesayanganmu adalah hal yang paling rumit yang kemudian meningkatkan
produksi peluh dalam saluran darahku yang tak terlihat.
Mulutmu bicara laksana lidahmu telah jatuh hati lama
dengannya. Aku tahu aku bukan angan dari lidahmu untuk melafalkan namaku. Parahnya,
kita termenung di ujung rumah makan ini terlalu lama dan aku bercengkrama
dengan namanya terlalu lama. Membuat seakan- akan darahku tak lagi ada dan
tergantikan dengan peluh yang keluar tak beraturan. Aku bukan anak kemarin sore
yang mengetahui tingkahmu. Bahkan,separuh umurku telah lama merapal gerakmu
walau seperempat dari separuh itu aku mengendap- endap.
Melihat binar matamu yang seakan menerawang jauh rupa dari gadis menawan diseberang pulau terus membuat darahku tenggelam dalam lautan peluh. Aku tidak melepas tatapanku kecangkir yang sedari tadi sudah habis airnya ku telan. Bukan aku tak ingin menatapmu, aku ingin, aku hanya tidak sanggup melihat matamu yang menari- nari mengaguminya. Iri mungkin juga bukan suatu kata yang pas untuk mengungkapkan karena memang aku tidak iri sedikitpun. Aku hanya merasa jauh lebih mengenalmu, jauh lebih selalu "ada" untukmu, atau mungkin aku selalu mencoba membantumu sebisaku. Dan bukan kah tidak adil jika Tuhan mempersatukanmu dengannya? Bagaimana denganku?
Aku tidak mengerti kenapa setiap detak jantungku disudut rumah makan ini semakin tak beraturan. Mungkin jantungku mulai beralih dari memompa darah menjadi memompa peluh. Aku yang mengajakmu untuk bercengkerama di sebuah sudut rumah makan ini dan aku pula yang menyesalinya. Bukan menyesali karena menghabiskan waktu bersama ragamu, tetapi menyesali saat di sudut ini aku mulai menyadari bahwa sudah lama kehilangan jiwamu, jiwa yang seharusnya hanya untukku.
Kamu masih terus mengoceh memainkan sejumlah kata- kata yang menggambarkan sedekat apa kehidupanmu dengannya. Aku merasa lidah mu terlalu pamer dengan cerita kalian. Setiap detail itu kamu ceritakan padaku dan aku melahapnya. Mungkin aku bisa gila atau terserang "penyakit tiba- tiba" jika kamu terus menceritakan dia tepat di tempat yang selalu hanya ingin ku habiskan bersamamu. Malam ini bintang dan bulan tak hanya tersenyum, mereka bahkan menertawaiku. Semakin kamu masuk dalam ceritamu, mereka semakin tertawa. Bahkan cangkir di depanku ikut mengolok- olok.
"Aku ingin menemuinya." kata itu membuatku berhenti menatap cangkir, itu membuatku menatap lantai rumah makan. Dan aku menatap lantai lebih dalam dari aku menatap cangkir.
"Kamu punya uang? Apa tidak terlalu jauh untukmu pergi kesana?" Aku bertanya dengan harapan kamu akan menyesali apa yang kamu katakan.
"Aku menabung. Tetapi entahlah." mendengar kata entahlah membuat produksi peluhku berkurang drastis.
"Entahlah?"
"Iya, entahlah. Entah aku yang akan jadi terbang kesana atau dia dan keluarganya yang kemari." peluhku dua kali lipat bahkan tiga kali lipat lebih deras dibanding awal.
Bagiku ini gila, ya gila. Aku mengajakmu ke rumah makan ini untuk menghabiskan waktu bersama dua bagianmu, raga dan jiwamu. Entah. Aku ikut memainka kata- kata ini dalam otakku. Entah aku yang gila, kamu yang gila, atau dia yang gila. Entah kamu akan benar- benar kesana, atau dia yang benar- benar kesini, dan yang bukan entah adalah aku tetap disini. Dinding- dinding sudut rumah makan ini seakan hidup dan menertawaiku, bahkan garpu, sendok, pisau, piring, semua di rumah makan ini menertawaiku. Produksi peluhku semakin meningkat dari detik ke detiknya.
Hampir sepuluh menit sudah aku dan kamu terdiam. Kamu memikirkan perjalananmu dan aku memikirkan perjalananmu. Ada yang sama yang kita fikirkan, perjalananmu. Peluh itu terus menetes menenggelamkan trombosit, leukosit, dan bagian darah lainnya. Jantungku kembali memompa peluh yang tak kunjung kembali menjadi darah. Aku hanya ingin menanyakan satu pertanyaan yang karena pertanyaan itu aku mengeluarkan berliter- liter peluh di dalam darahku. Hanya satu pertanyaan yang karena pertanyaan itu aku terus menatap ke lantai seakan aku akan melasernya dengan tatapanku. Aku mencoba seribu cara mengeluarkannya dari mulutku. Melemaskan lidahku yang mulai aku gerak- gerakkan dengan menghantam deretan gigiku.
"Ka..ka..kamu..." aku terhenti sejenak membenarkan peletakan lidahku.
"Kenapa denganku?"
"Ka..ka..kamu bbenar- bbenar mencintainya?" peluh itu kini benar- benar menenggelamkanku, menenggelamkan darah, otot, tulang, epidermis, pembuluh darah, dan bagian lainnya. Peluh itu telah membludak dari bagian darah. Semakin aku memikirkan jawaban apa yang terlontar darimu, semakin peluhku mulai keluar dari dalam jaringan- jaringan tubuhku.
Kamu mulai membenarkan tata letak dudukmu, seperti kamu akan menjawab pertanyaanku dengan penuh keyakinan. Seperti kamu akan menjawab di lembar ujianmu dengan penuh perhitungan sebelumnya. Pergeseranmu yang beberapa mili saja telah menghujani kemeja yang ku pakai dengan peluh. Aku menarik nafas dalam, seakan aku tahu detik setelah aku menghembuskan nafas kamu akan menjawabnya.
Nafas dalamku ku buang perlahan dan kamu benar- benar menjawab tepat setelahnya.
"Entahlah, bahkan aku tidak tahu aku mencintainya atau hanya penasaran. Entahlah."
Hanya ada kata entah di akhir sudut rumah makan ini. Entahlah.
Melihat binar matamu yang seakan menerawang jauh rupa dari gadis menawan diseberang pulau terus membuat darahku tenggelam dalam lautan peluh. Aku tidak melepas tatapanku kecangkir yang sedari tadi sudah habis airnya ku telan. Bukan aku tak ingin menatapmu, aku ingin, aku hanya tidak sanggup melihat matamu yang menari- nari mengaguminya. Iri mungkin juga bukan suatu kata yang pas untuk mengungkapkan karena memang aku tidak iri sedikitpun. Aku hanya merasa jauh lebih mengenalmu, jauh lebih selalu "ada" untukmu, atau mungkin aku selalu mencoba membantumu sebisaku. Dan bukan kah tidak adil jika Tuhan mempersatukanmu dengannya? Bagaimana denganku?
Aku tidak mengerti kenapa setiap detak jantungku disudut rumah makan ini semakin tak beraturan. Mungkin jantungku mulai beralih dari memompa darah menjadi memompa peluh. Aku yang mengajakmu untuk bercengkerama di sebuah sudut rumah makan ini dan aku pula yang menyesalinya. Bukan menyesali karena menghabiskan waktu bersama ragamu, tetapi menyesali saat di sudut ini aku mulai menyadari bahwa sudah lama kehilangan jiwamu, jiwa yang seharusnya hanya untukku.
Kamu masih terus mengoceh memainkan sejumlah kata- kata yang menggambarkan sedekat apa kehidupanmu dengannya. Aku merasa lidah mu terlalu pamer dengan cerita kalian. Setiap detail itu kamu ceritakan padaku dan aku melahapnya. Mungkin aku bisa gila atau terserang "penyakit tiba- tiba" jika kamu terus menceritakan dia tepat di tempat yang selalu hanya ingin ku habiskan bersamamu. Malam ini bintang dan bulan tak hanya tersenyum, mereka bahkan menertawaiku. Semakin kamu masuk dalam ceritamu, mereka semakin tertawa. Bahkan cangkir di depanku ikut mengolok- olok.
"Aku ingin menemuinya." kata itu membuatku berhenti menatap cangkir, itu membuatku menatap lantai rumah makan. Dan aku menatap lantai lebih dalam dari aku menatap cangkir.
"Kamu punya uang? Apa tidak terlalu jauh untukmu pergi kesana?" Aku bertanya dengan harapan kamu akan menyesali apa yang kamu katakan.
"Aku menabung. Tetapi entahlah." mendengar kata entahlah membuat produksi peluhku berkurang drastis.
"Entahlah?"
"Iya, entahlah. Entah aku yang akan jadi terbang kesana atau dia dan keluarganya yang kemari." peluhku dua kali lipat bahkan tiga kali lipat lebih deras dibanding awal.
Bagiku ini gila, ya gila. Aku mengajakmu ke rumah makan ini untuk menghabiskan waktu bersama dua bagianmu, raga dan jiwamu. Entah. Aku ikut memainka kata- kata ini dalam otakku. Entah aku yang gila, kamu yang gila, atau dia yang gila. Entah kamu akan benar- benar kesana, atau dia yang benar- benar kesini, dan yang bukan entah adalah aku tetap disini. Dinding- dinding sudut rumah makan ini seakan hidup dan menertawaiku, bahkan garpu, sendok, pisau, piring, semua di rumah makan ini menertawaiku. Produksi peluhku semakin meningkat dari detik ke detiknya.
Hampir sepuluh menit sudah aku dan kamu terdiam. Kamu memikirkan perjalananmu dan aku memikirkan perjalananmu. Ada yang sama yang kita fikirkan, perjalananmu. Peluh itu terus menetes menenggelamkan trombosit, leukosit, dan bagian darah lainnya. Jantungku kembali memompa peluh yang tak kunjung kembali menjadi darah. Aku hanya ingin menanyakan satu pertanyaan yang karena pertanyaan itu aku mengeluarkan berliter- liter peluh di dalam darahku. Hanya satu pertanyaan yang karena pertanyaan itu aku terus menatap ke lantai seakan aku akan melasernya dengan tatapanku. Aku mencoba seribu cara mengeluarkannya dari mulutku. Melemaskan lidahku yang mulai aku gerak- gerakkan dengan menghantam deretan gigiku.
"Ka..ka..kamu..." aku terhenti sejenak membenarkan peletakan lidahku.
"Kenapa denganku?"
"Ka..ka..kamu bbenar- bbenar mencintainya?" peluh itu kini benar- benar menenggelamkanku, menenggelamkan darah, otot, tulang, epidermis, pembuluh darah, dan bagian lainnya. Peluh itu telah membludak dari bagian darah. Semakin aku memikirkan jawaban apa yang terlontar darimu, semakin peluhku mulai keluar dari dalam jaringan- jaringan tubuhku.
Kamu mulai membenarkan tata letak dudukmu, seperti kamu akan menjawab pertanyaanku dengan penuh keyakinan. Seperti kamu akan menjawab di lembar ujianmu dengan penuh perhitungan sebelumnya. Pergeseranmu yang beberapa mili saja telah menghujani kemeja yang ku pakai dengan peluh. Aku menarik nafas dalam, seakan aku tahu detik setelah aku menghembuskan nafas kamu akan menjawabnya.
Nafas dalamku ku buang perlahan dan kamu benar- benar menjawab tepat setelahnya.
"Entahlah, bahkan aku tidak tahu aku mencintainya atau hanya penasaran. Entahlah."
Hanya ada kata entah di akhir sudut rumah makan ini. Entahlah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar